Login Alumni Register
  • HOME
  • profile
    • Visi Misi dan Value
    • About
    • Sejarah Sekolah
    • Video Tour
    • Profil Guru
  • event
    • news
    • agenda
  • article
  • gallery
  • PPDB
  • achievement
  • creative corner
  • Facility
  • Extracurricular
Studi Lingkungan Kelas 8 SMP Tarakanita 3

Perjalanan Aestara di Yogyakarta 

Oleh : Filia Elvina, Nathanael Gavindra Agastyanto, dan Riandha Az-Zahra


Ada suatu pepatah yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, namun berbeda dengan angkatan 50 SMP Tarakanita 3 (Aestara) yang pergi belajar di luar lingkungan sekolah, tepatnya di Yogyakarta. Rabu, 11 Februari 2026 peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 memperoleh kesempatan belajar dan memperluas ilmu di Yogyakarta melalui kegiatan studi lingkungan yang berlangsung selama 3 hari. Pada studi lingkungan ini angkatan 50 (Aestara) belajar mengenai banyak hal, diawali kegiatan mengeksplorasi kreativitas memanfaatkan baju bekas yang tak lagi digunakan bersama Kak Yenny dan tim Rumah Kreatif Tukik pada tanggal 12 Februari 2026. Peserta didik kelas 8 diajak untuk mengelola limbah pakaian (tekstil) yang ternyata mencapai 92 juta ton per tahun di seluruh dunia. Aestara belajar mengolah pakaian bekas menjadi tas dengan bimbingan Kak Yenny dan tim, harapannya langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan baik mengalihkan limbah tekstil menjadi barang bermanfaat.

Setelah berkreasi bersama Kak Yenny dan tim, Aestara melanjutkan perjalanan menuju postulat Carolus Borromeus, peserta didik kelas 8 mempelajari banyak hal terkait sejarah dan latar belakang suster-suster kongregasi CB (Carolus Borromeus) dan Santo Carolus Borromeus. Pada kunjungan ini ke postulat Carolus Borromeus ini, Aestara didampingi oleh 4 suster, yaitu Suster Aprilia CB, Suster Cecilio CB, Suster Vernanda CB, dan Suster Courtney CB. Peserta didik diajak belajar proses pembuatan hosti yang ternyata melalui banyak tahapan. Tidak hanya belajar proses pembuatan hosti, peserta didik angkatan 50 juga diajak memperdalam informasi mengenai kongregasi suster CB dan Santo Carolus Borromeus dengan mengelilingi museum CB. Peserta didik kelas 8 mampu mempelajari banyak saksi sejarah berdirinya kongregasi suster CB, mulai dari kisah Elizabeth Gruyters sang pendiri kongregasi, pelayanan yang dilakukan suster Carolus Borromeus di seluruh belahan dunia (Tanzania, Brazil, Indonesia, Timor Leste, Belanda, Belgia) serta kisah hidup Santo Carolus Borromeus. 

Aestara pun melanjutkan perjalanan ke Desa Pancoh yang merupakan desa wisata dengan beberapa atraksi yang ditawarkan yaitu, Wisata Alam, Edukasi, dan Budaya. Sebelum memulai kegiatan berkebun, Aestara diberikan waktu 30 menit untuk menyantap makan siang. Sesudah makan siang, peserta didik berkesempatan mengelilingi area Desa Pancoh. Kegiatan yang dilakukan Aestara untuk menanam sayuran terong. Hangatnya sinar matahari tidak mengurangi semangat berkebun yang dipandu oleh Bapak Soeharjo. Beliau menjelaskan secara umum mengenai sayuran terong dan cara menanamnya. Bapak Soeharjo dan tim turut serta mendampingi Aestara saat praktik menanam bibit terong ke dalam polybag. 

Kegiatan berlanjut dari kunjungan ke desa Pancoh menuju Jogja Nature Space, di objek wisata ini peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 diajak untuk mengelilingi peninggalan erupsi Gunung Merapi. Aestara diajak untuk mengelilingi museum peninggalan sisa erupsi Merapi. Pos kedua ini, peserta didik mendengarkan cerita mengenai tragedi kejadian erupsi gunung merapi di tahun 2010 silam yang memakan banyak korban jiwa. Pengalaman ini merupakan pengalaman berharga yang menyenangkan karena dapat belajar terkait erupsi Gunung Merapi tempo lalu. Acara berikutnya adalah makan malam di KFC Malioboro. Jarak penginapan Aestara menuju lokasi tidak terlalu jauh, butuh waktu 10 menit. Aestara diberikan kebebasan untuk mengelilingi Malioboro sampai pukul 21.00 WIB. 

Jumat, 13 Februari 2026, hari ketiga studi lingkungan diawali dengan kunjungan Aestara menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Guwosari, Bantul. Sesampainya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ibu Arny, perwakilan guru pendamping SMP Tarakanita 3. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada peserta didik mengenai urgensi pengolahan sampah, mengingat permasalahan limbah yang semakin serius di kota-kota besar seperti Jakarta. Sesi ini berlanjut dengan pemaparan materi oleh Ibu Esti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ibu Esti menjelaskan bahwa TPST Guwosari merupakan fasilitas yang tidak hanya memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolah residu sampah menjadi kompos dan RDF (Refuse Derived Fuel). Ibu Esti mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti kadar nutrisi kompos yang belum optimal serta tingginya kelembapan sampah saat musim hujan yang memperlambat proses pengolahan. 

Tidak hanya belajar teori, acara berlanjut ke sesi praktik. Aestara dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengamati praktik langsung pengolahan sampah residu, fokus utama sesi ini adalah untuk membuat batako dari hasil abu pembakaran sampah di insinerator. Peserta didik mengamati semua tahap pembuatannya, dimulai dari pencampuran abu dengan semen dan air hingga menyatu. Campuran tersebut kemudian melalui dua pilihan metode cetak, yaitu menggunakan mesin pres atau secara manual dengan cetakan. Tahap terakhir adalah pengeringan, di mana batako yang telah dicetak diangin-anginkan hingga mengeras, biasanya proses pengeringan ini berdurasi selama 1 bulan hingga batako akhirnya dapat digunakan. Melalui demonstrasi di kunjungan ke TPST Guwosari ini, Aestara menyaksikan bahwa limbah yang tampak tak berguna dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Dilanjutkan dari kunjungan ke TPST Guwosari, Aestara kemudian mengunjungi PLTH Pantai Baru untuk mempelajari mengenai energi terbarukan. PLTH ini memanfaatkan energi angin dan radiasi matahari untuk memproduksi energi listrik. Proyek ini telah beroperasi selama 15 tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan listrik di kawasan Pantai baru yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik sama sekali. Selain itu, PLTH ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi untuk pengunjung yang ingin mempelajari lebih dalam tentang pembangkit listrik dan energi terbarukan. PLTH ini telah beroperasi dengan baik meskipun masih ada tantangan dalam pengembangannya. Tantangan utamanya memanfaatkan potensi energi lain seperti gelombang laut.

Kegiatan Aestara di Yogyakarta melanjutkan kunjungan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja. Wisata tersebut berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dikenal sebagai candi aktif, digunakan untuk upacara keagamaan umat Hindu. Candi Prambanan juga terkenal dengan cerita Ramayana yang menggambarkan kesetiaan Sinta kepada suaminya, Rama, meskipun mengalami banyak penderitaan. Tidak hanya membawakan cerita rakyat yang menarik bagi wisatawan, arsitektur dari Candi Prambanan ini memiliki pengaruh besar dari budaya India hal tersebut mampu dilihat dari patung-patungnya identik dengan ukiran khas India. Candi ini dibangun dengan teknik yang memungkinkan strukturnya untuk bertahan dari gempa bumi, di mana batu-batu tersebut hanya bergeser tanpa khawatir akan pecah. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan kepercayaan animisme yang kemudian digabungkan dengan agama Hindu. Kunjungan ke Candi Prambanan ini menutup cerita singkat mengenai perjalanan peserta didik kelas 8 angkatan 50, SMP Tarakanita 3 di Yogyakarta.


Studi Lingkungan Kelas 8 SMP Tarakanita 3

Perjalanan Aestara di Yogyakarta 

Oleh : Filia Elvina, Nathanael Gavindra Agastyanto, dan Riandha Az-Zahra


Ada suatu pepatah yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, namun berbeda dengan angkatan 50 SMP Tarakanita 3 (Aestara) yang pergi belajar di luar lingkungan sekolah, tepatnya di Yogyakarta. Rabu, 11 Februari 2026 peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 memperoleh kesempatan belajar dan memperluas ilmu di Yogyakarta melalui kegiatan studi lingkungan yang berlangsung selama 3 hari. Pada studi lingkungan ini angkatan 50 (Aestara) belajar mengenai banyak hal, diawali kegiatan mengeksplorasi kreativitas memanfaatkan baju bekas yang tak lagi digunakan bersama Kak Yenny dan tim Rumah Kreatif Tukik pada tanggal 12 Februari 2026. Peserta didik kelas 8 diajak untuk mengelola limbah pakaian (tekstil) yang ternyata mencapai 92 juta ton per tahun di seluruh dunia. Aestara belajar mengolah pakaian bekas menjadi tas dengan bimbingan Kak Yenny dan tim, harapannya langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan baik mengalihkan limbah tekstil menjadi barang bermanfaat.

Setelah berkreasi bersama Kak Yenny dan tim, Aestara melanjutkan perjalanan menuju postulat Carolus Borromeus, peserta didik kelas 8 mempelajari banyak hal terkait sejarah dan latar belakang suster-suster kongregasi CB (Carolus Borromeus) dan Santo Carolus Borromeus. Pada kunjungan ini ke postulat Carolus Borromeus ini, Aestara didampingi oleh 4 suster, yaitu Suster Aprilia CB, Suster Cecilio CB, Suster Vernanda CB, dan Suster Courtney CB. Peserta didik diajak belajar proses pembuatan hosti yang ternyata melalui banyak tahapan. Tidak hanya belajar proses pembuatan hosti, peserta didik angkatan 50 juga diajak memperdalam informasi mengenai kongregasi suster CB dan Santo Carolus Borromeus dengan mengelilingi museum CB. Peserta didik kelas 8 mampu mempelajari banyak saksi sejarah berdirinya kongregasi suster CB, mulai dari kisah Elizabeth Gruyters sang pendiri kongregasi, pelayanan yang dilakukan suster Carolus Borromeus di seluruh belahan dunia (Tanzania, Brazil, Indonesia, Timor Leste, Belanda, Belgia) serta kisah hidup Santo Carolus Borromeus. 

Aestara pun melanjutkan perjalanan ke Desa Pancoh yang merupakan desa wisata dengan beberapa atraksi yang ditawarkan yaitu, Wisata Alam, Edukasi, dan Budaya. Sebelum memulai kegiatan berkebun, Aestara diberikan waktu 30 menit untuk menyantap makan siang. Sesudah makan siang, peserta didik berkesempatan mengelilingi area Desa Pancoh. Kegiatan yang dilakukan Aestara untuk menanam sayuran terong. Hangatnya sinar matahari tidak mengurangi semangat berkebun yang dipandu oleh Bapak Soeharjo. Beliau menjelaskan secara umum mengenai sayuran terong dan cara menanamnya. Bapak Soeharjo dan tim turut serta mendampingi Aestara saat praktik menanam bibit terong ke dalam polybag. 

Kegiatan berlanjut dari kunjungan ke desa Pancoh menuju Jogja Nature Space, di objek wisata ini peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 diajak untuk mengelilingi peninggalan erupsi Gunung Merapi. Aestara diajak untuk mengelilingi museum peninggalan sisa erupsi Merapi. Pos kedua ini, peserta didik mendengarkan cerita mengenai tragedi kejadian erupsi gunung merapi di tahun 2010 silam yang memakan banyak korban jiwa. Pengalaman ini merupakan pengalaman berharga yang menyenangkan karena dapat belajar terkait erupsi Gunung Merapi tempo lalu. Acara berikutnya adalah makan malam di KFC Malioboro. Jarak penginapan Aestara menuju lokasi tidak terlalu jauh, butuh waktu 10 menit. Aestara diberikan kebebasan untuk mengelilingi Malioboro sampai pukul 21.00 WIB. 

Jumat, 13 Februari 2026, hari ketiga studi lingkungan diawali dengan kunjungan Aestara menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Guwosari, Bantul. Sesampainya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ibu Arny, perwakilan guru pendamping SMP Tarakanita 3. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada peserta didik mengenai urgensi pengolahan sampah, mengingat permasalahan limbah yang semakin serius di kota-kota besar seperti Jakarta. Sesi ini berlanjut dengan pemaparan materi oleh Ibu Esti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ibu Esti menjelaskan bahwa TPST Guwosari merupakan fasilitas yang tidak hanya memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolah residu sampah menjadi kompos dan RDF (Refuse Derived Fuel). Ibu Esti mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti kadar nutrisi kompos yang belum optimal serta tingginya kelembapan sampah saat musim hujan yang memperlambat proses pengolahan. 

Tidak hanya belajar teori, acara berlanjut ke sesi praktik. Aestara dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengamati praktik langsung pengolahan sampah residu, fokus utama sesi ini adalah untuk membuat batako dari hasil abu pembakaran sampah di insinerator. Peserta didik mengamati semua tahap pembuatannya, dimulai dari pencampuran abu dengan semen dan air hingga menyatu. Campuran tersebut kemudian melalui dua pilihan metode cetak, yaitu menggunakan mesin pres atau secara manual dengan cetakan. Tahap terakhir adalah pengeringan, di mana batako yang telah dicetak diangin-anginkan hingga mengeras, biasanya proses pengeringan ini berdurasi selama 1 bulan hingga batako akhirnya dapat digunakan. Melalui demonstrasi di kunjungan ke TPST Guwosari ini, Aestara menyaksikan bahwa limbah yang tampak tak berguna dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Dilanjutkan dari kunjungan ke TPST Guwosari, Aestara kemudian mengunjungi PLTH Pantai Baru untuk mempelajari mengenai energi terbarukan. PLTH ini memanfaatkan energi angin dan radiasi matahari untuk memproduksi energi listrik. Proyek ini telah beroperasi selama 15 tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan listrik di kawasan Pantai baru yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik sama sekali. Selain itu, PLTH ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi untuk pengunjung yang ingin mempelajari lebih dalam tentang pembangkit listrik dan energi terbarukan. PLTH ini telah beroperasi dengan baik meskipun masih ada tantangan dalam pengembangannya. Tantangan utamanya memanfaatkan potensi energi lain seperti gelombang laut.

Kegiatan Aestara di Yogyakarta melanjutkan kunjungan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja. Wisata tersebut berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dikenal sebagai candi aktif, digunakan untuk upacara keagamaan umat Hindu. Candi Prambanan juga terkenal dengan cerita Ramayana yang menggambarkan kesetiaan Sinta kepada suaminya, Rama, meskipun mengalami banyak penderitaan. Tidak hanya membawakan cerita rakyat yang menarik bagi wisatawan, arsitektur dari Candi Prambanan ini memiliki pengaruh besar dari budaya India hal tersebut mampu dilihat dari patung-patungnya identik dengan ukiran khas India. Candi ini dibangun dengan teknik yang memungkinkan strukturnya untuk bertahan dari gempa bumi, di mana batu-batu tersebut hanya bergeser tanpa khawatir akan pecah. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan kepercayaan animisme yang kemudian digabungkan dengan agama Hindu. Kunjungan ke Candi Prambanan ini menutup cerita singkat mengenai perjalanan peserta didik kelas 8 angkatan 50, SMP Tarakanita 3 di Yogyakarta.


Studi Lingkungan Kelas 8 SMP Tarakanita 3

Perjalanan Aestara di Yogyakarta 

Oleh : Filia Elvina, Nathanael Gavindra Agastyanto, dan Riandha Az-Zahra


Ada suatu pepatah yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, namun berbeda dengan angkatan 50 SMP Tarakanita 3 (Aestara) yang pergi belajar di luar lingkungan sekolah, tepatnya di Yogyakarta. Rabu, 11 Februari 2026 peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 memperoleh kesempatan belajar dan memperluas ilmu di Yogyakarta melalui kegiatan studi lingkungan yang berlangsung selama 3 hari. Pada studi lingkungan ini angkatan 50 (Aestara) belajar mengenai banyak hal, diawali kegiatan mengeksplorasi kreativitas memanfaatkan baju bekas yang tak lagi digunakan bersama Kak Yenny dan tim Rumah Kreatif Tukik pada tanggal 12 Februari 2026. Peserta didik kelas 8 diajak untuk mengelola limbah pakaian (tekstil) yang ternyata mencapai 92 juta ton per tahun di seluruh dunia. Aestara belajar mengolah pakaian bekas menjadi tas dengan bimbingan Kak Yenny dan tim, harapannya langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan baik mengalihkan limbah tekstil menjadi barang bermanfaat.

Setelah berkreasi bersama Kak Yenny dan tim, Aestara melanjutkan perjalanan menuju postulat Carolus Borromeus, peserta didik kelas 8 mempelajari banyak hal terkait sejarah dan latar belakang suster-suster kongregasi CB (Carolus Borromeus) dan Santo Carolus Borromeus. Pada kunjungan ini ke postulat Carolus Borromeus ini, Aestara didampingi oleh 4 suster, yaitu Suster Aprilia CB, Suster Cecilio CB, Suster Vernanda CB, dan Suster Courtney CB. Peserta didik diajak belajar proses pembuatan hosti yang ternyata melalui banyak tahapan. Tidak hanya belajar proses pembuatan hosti, peserta didik angkatan 50 juga diajak memperdalam informasi mengenai kongregasi suster CB dan Santo Carolus Borromeus dengan mengelilingi museum CB. Peserta didik kelas 8 mampu mempelajari banyak saksi sejarah berdirinya kongregasi suster CB, mulai dari kisah Elizabeth Gruyters sang pendiri kongregasi, pelayanan yang dilakukan suster Carolus Borromeus di seluruh belahan dunia (Tanzania, Brazil, Indonesia, Timor Leste, Belanda, Belgia) serta kisah hidup Santo Carolus Borromeus. 

Aestara pun melanjutkan perjalanan ke Desa Pancoh yang merupakan desa wisata dengan beberapa atraksi yang ditawarkan yaitu, Wisata Alam, Edukasi, dan Budaya. Sebelum memulai kegiatan berkebun, Aestara diberikan waktu 30 menit untuk menyantap makan siang. Sesudah makan siang, peserta didik berkesempatan mengelilingi area Desa Pancoh. Kegiatan yang dilakukan Aestara untuk menanam sayuran terong. Hangatnya sinar matahari tidak mengurangi semangat berkebun yang dipandu oleh Bapak Soeharjo. Beliau menjelaskan secara umum mengenai sayuran terong dan cara menanamnya. Bapak Soeharjo dan tim turut serta mendampingi Aestara saat praktik menanam bibit terong ke dalam polybag. 

Kegiatan berlanjut dari kunjungan ke desa Pancoh menuju Jogja Nature Space, di objek wisata ini peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 diajak untuk mengelilingi peninggalan erupsi Gunung Merapi. Aestara diajak untuk mengelilingi museum peninggalan sisa erupsi Merapi. Pos kedua ini, peserta didik mendengarkan cerita mengenai tragedi kejadian erupsi gunung merapi di tahun 2010 silam yang memakan banyak korban jiwa. Pengalaman ini merupakan pengalaman berharga yang menyenangkan karena dapat belajar terkait erupsi Gunung Merapi tempo lalu. Acara berikutnya adalah makan malam di KFC Malioboro. Jarak penginapan Aestara menuju lokasi tidak terlalu jauh, butuh waktu 10 menit. Aestara diberikan kebebasan untuk mengelilingi Malioboro sampai pukul 21.00 WIB. 

Jumat, 13 Februari 2026, hari ketiga studi lingkungan diawali dengan kunjungan Aestara menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Guwosari, Bantul. Sesampainya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ibu Arny, perwakilan guru pendamping SMP Tarakanita 3. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada peserta didik mengenai urgensi pengolahan sampah, mengingat permasalahan limbah yang semakin serius di kota-kota besar seperti Jakarta. Sesi ini berlanjut dengan pemaparan materi oleh Ibu Esti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ibu Esti menjelaskan bahwa TPST Guwosari merupakan fasilitas yang tidak hanya memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolah residu sampah menjadi kompos dan RDF (Refuse Derived Fuel). Ibu Esti mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti kadar nutrisi kompos yang belum optimal serta tingginya kelembapan sampah saat musim hujan yang memperlambat proses pengolahan. 

Tidak hanya belajar teori, acara berlanjut ke sesi praktik. Aestara dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengamati praktik langsung pengolahan sampah residu, fokus utama sesi ini adalah untuk membuat batako dari hasil abu pembakaran sampah di insinerator. Peserta didik mengamati semua tahap pembuatannya, dimulai dari pencampuran abu dengan semen dan air hingga menyatu. Campuran tersebut kemudian melalui dua pilihan metode cetak, yaitu menggunakan mesin pres atau secara manual dengan cetakan. Tahap terakhir adalah pengeringan, di mana batako yang telah dicetak diangin-anginkan hingga mengeras, biasanya proses pengeringan ini berdurasi selama 1 bulan hingga batako akhirnya dapat digunakan. Melalui demonstrasi di kunjungan ke TPST Guwosari ini, Aestara menyaksikan bahwa limbah yang tampak tak berguna dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Dilanjutkan dari kunjungan ke TPST Guwosari, Aestara kemudian mengunjungi PLTH Pantai Baru untuk mempelajari mengenai energi terbarukan. PLTH ini memanfaatkan energi angin dan radiasi matahari untuk memproduksi energi listrik. Proyek ini telah beroperasi selama 15 tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan listrik di kawasan Pantai baru yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik sama sekali. Selain itu, PLTH ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi untuk pengunjung yang ingin mempelajari lebih dalam tentang pembangkit listrik dan energi terbarukan. PLTH ini telah beroperasi dengan baik meskipun masih ada tantangan dalam pengembangannya. Tantangan utamanya memanfaatkan potensi energi lain seperti gelombang laut.

Kegiatan Aestara di Yogyakarta melanjutkan kunjungan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja. Wisata tersebut berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dikenal sebagai candi aktif, digunakan untuk upacara keagamaan umat Hindu. Candi Prambanan juga terkenal dengan cerita Ramayana yang menggambarkan kesetiaan Sinta kepada suaminya, Rama, meskipun mengalami banyak penderitaan. Tidak hanya membawakan cerita rakyat yang menarik bagi wisatawan, arsitektur dari Candi Prambanan ini memiliki pengaruh besar dari budaya India hal tersebut mampu dilihat dari patung-patungnya identik dengan ukiran khas India. Candi ini dibangun dengan teknik yang memungkinkan strukturnya untuk bertahan dari gempa bumi, di mana batu-batu tersebut hanya bergeser tanpa khawatir akan pecah. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan kepercayaan animisme yang kemudian digabungkan dengan agama Hindu. Kunjungan ke Candi Prambanan ini menutup cerita singkat mengenai perjalanan peserta didik kelas 8 angkatan 50, SMP Tarakanita 3 di Yogyakarta.


Aksi Peduli Kasih Tarakanita 3

Aksi Peduli Kasih Tarakanita 3 

oleh Rafaela Gytha Anindya Prasetyo 


Sekolah Tarakanita 3 turut serta dalam berbagi kasih untuk warga di sekitar sekolah. Perwakilan dari TK-SD-SMP bersatu bersama turun ke rumah-rumah RT/RW sekitar sekolah dalam rangka ucapan syukur atas umur yang bertambah 3 jenjang yang bersamaan di bulan Januari ini. Aksi peduli kasih ini akan dibagikan kepada warga-warga oleh RT/RW setempat.

Beberapa perwakilan baik dari peserta didik, guru, dan karyawan TK-SD-SMP berperan besar dalam kegiatan tersebut. Wujud aksi peduli kasih yang diberikan adalah beberapa bahan pangan dan rumah tangga, seperti mie, sarden, gula, teh, dan lainnya dikumpulkan dari seluruh warga sekolah baik peserta didik serta bapak, ibu guru, dan karyawan. Pada kesempatan mengajarkan untuk berbagi kasih pada orang di sekitar.


Perayaan HUT Ke-51 SMP Tarakanita 3

Perayaan HUT Ke-51 SMP Tarakanita 3


Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) sekolah SMP Tarakanita 3 ke-51 diawali dengan pelaksanaan Misa Syukur yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Misa ini menjadi ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas penyertaan-Nya selama 51 tahun perjalanan sekolah dalam dunia pendidikan. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan prosesi potong tumpeng dan tiup lilin sebagai simbol rasa syukur atas bertambahnya usia sekolah. Momen ini menjadi ungkapan harapan agar sekolah senantiasa diberkati dan terus berkembang.


Rangkaian kegiatan berikutnya diisi dengan berbagai penampilan siswa dan siswi. Beragam pertunjukan ditampilkan sebagai wadah menunjukan bakat dan kreativitas peserta didik. Melalui penampilan tersebut, siswa dan siswi menunjukkan partisipasi aktif. Sebagai penutup, seluruh warga sekolah mengikuti flashmob bersama. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan kekompakan seluruh warga sekolah. Perayaan HUT sekolah ke-51 menjadi momen untuk mempererat persaudaraan serta memperkuat semangat melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.


Perayaan HUT Ke-51 SMP Tarakanita 3

Perayaan HUT Ke-51 SMP Tarakanita 3


Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) sekolah SMP Tarakanita 3 ke-51 diawali dengan pelaksanaan Misa Syukur yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Misa ini menjadi ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas penyertaan-Nya selama 51 tahun perjalanan sekolah dalam dunia pendidikan. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan prosesi potong tumpeng dan tiup lilin sebagai simbol rasa syukur atas bertambahnya usia sekolah. Momen ini menjadi ungkapan harapan agar sekolah senantiasa diberkati dan terus berkembang.


Rangkaian kegiatan berikutnya diisi dengan berbagai penampilan siswa dan siswi. Beragam pertunjukan ditampilkan sebagai wadah menunjukan bakat dan kreativitas peserta didik. Melalui penampilan tersebut, siswa dan siswi menunjukkan partisipasi aktif. Sebagai penutup, seluruh warga sekolah mengikuti flashmob bersama. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan kekompakan seluruh warga sekolah. Perayaan HUT sekolah ke-51 menjadi momen untuk mempererat persaudaraan serta memperkuat semangat melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.


Perayaan HUT Ke-51 SMP Tarakanita 3

Perayaan HUT Ke-51 SMP Tarakanita 3


Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) sekolah SMP Tarakanita 3 ke-51 diawali dengan pelaksanaan Misa Syukur yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Misa ini menjadi ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas penyertaan-Nya selama 51 tahun perjalanan sekolah dalam dunia pendidikan. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan prosesi potong tumpeng dan tiup lilin sebagai simbol rasa syukur atas bertambahnya usia sekolah. Momen ini menjadi ungkapan harapan agar sekolah senantiasa diberkati dan terus berkembang.


Rangkaian kegiatan berikutnya diisi dengan berbagai penampilan siswa dan siswi. Beragam pertunjukan ditampilkan sebagai wadah menunjukan bakat dan kreativitas peserta didik. Melalui penampilan tersebut, siswa dan siswi menunjukkan partisipasi aktif. Sebagai penutup, seluruh warga sekolah mengikuti flashmob bersama. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan kekompakan seluruh warga sekolah. Perayaan HUT sekolah ke-51 menjadi momen untuk mempererat persaudaraan serta memperkuat semangat melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.


Character Building SMP Tarakanita 3: Proses Mewujudkan Pribadi Tangguh

Character Building: Proses Mewujudkan Pribadi Tangguh 

Oleh Gaby dan Tiara


Setiap tahun, SMP Tarakanita 3 mengikuti kegiatan untuk membangun kekompakkan murid melalui dinamika antarteman angkatan. Kegiatan ini diikuti oleh murid kelas 7, karena untuk membentuk karakter siswa dan siswi, membangun kekompakkan, serta melatih kemandirian peserta didik. Kegiatan ini pada dilaksanakan pada Jumat, 9 Januari 2026 bertempat di Sapadia Outbound, Parung, Kabupaten Bogor.

Perjalanan menuju lokasi outbound menempuh waktu 1 jam 20 menit dengan menggunakan dua mobil brimob untuk kelas A dan kelas B. Setiap mobil memuat 27 orang, dengan 25 peserta didik dan 2 orang guru pendamping. Setelah sampai di lokasi, murid-murid disambut tim Sapadia dan dipersilakan menikmati welcome drink, sembari bersantai menikmati welcome drink, dan suasana lingkungan sekitar sebelum kegiatan mulai. Acara outbound dimulai ketika murid-murid sudah melakukan pemanasan, sesudah pemanasan, kami dibagi menjadi empat kelompok. Ada dua kelompok yang melakukan outbound challenge dan ada dua kelompok yang melakukan outbound education. Outbound challenge terdiri dari tantangan melewati beberapa tali yang dipasang cukup tinggi. Lalu, outbound education terdiri dari permainan kerja sama seperti, memindahkan tepung secara bergilir ke belakang, tarik tambang, estafet hula hoop, meniup gelas plastik, menyalakan petasan menggunakan tali, serta mengaitkan besi pada besi lainnya. Murid-murid  melakukan kedua aktivitas tersebut secara bergantian.

Setelah semua kegiatan outbound selesai, murid-murid mendapat waktu istirahat yang diisi dengan acara makan siang dan berganti pakaian karena akan permainan basah-basahan. Permainan basah-basahan ini, seperti menangkap ikan dan mengisi pipa yang bocor, disambung dengan kegiatan berenang. Murid-murid terlihat menikmati waktu bersama di Sapadia. Setelah berenang, murid-murid membilas diri dan menikmati beberapa camilan penutup, yaitu bakso, pizza, dan snack lainnya. Setelah acara selesai, murid-murid pulang ke sekolah. Kegiatan ini mengajarkan pada siswa dan siswi untuk kerja sama dengan sesama, mengasah kreativitas, menyusun strategi, melatih kemandirian, serta membentuk karakter yang lebih baik.


Character Building SMP Tarakanita 3: Proses Mewujudkan Pribadi Tangguh

Character Building: Proses Mewujudkan Pribadi Tangguh 

Oleh Gaby dan Tiara


Setiap tahun, SMP Tarakanita 3 mengikuti kegiatan untuk membangun kekompakkan murid melalui dinamika antarteman angkatan. Kegiatan ini diikuti oleh murid kelas 7, karena untuk membentuk karakter siswa dan siswi, membangun kekompakkan, serta melatih kemandirian peserta didik. Kegiatan ini pada dilaksanakan pada Jumat, 9 Januari 2026 bertempat di Sapadia Outbound, Parung, Kabupaten Bogor.

Perjalanan menuju lokasi outbound menempuh waktu 1 jam 20 menit dengan menggunakan dua mobil brimob untuk kelas A dan kelas B. Setiap mobil memuat 27 orang, dengan 25 peserta didik dan 2 orang guru pendamping. Setelah sampai di lokasi, murid-murid disambut tim Sapadia dan dipersilakan menikmati welcome drink, sembari bersantai menikmati welcome drink, dan suasana lingkungan sekitar sebelum kegiatan mulai. Acara outbound dimulai ketika murid-murid sudah melakukan pemanasan, sesudah pemanasan, kami dibagi menjadi empat kelompok. Ada dua kelompok yang melakukan outbound challenge dan ada dua kelompok yang melakukan outbound education. Outbound challenge terdiri dari tantangan melewati beberapa tali yang dipasang cukup tinggi. Lalu, outbound education terdiri dari permainan kerja sama seperti, memindahkan tepung secara bergilir ke belakang, tarik tambang, estafet hula hoop, meniup gelas plastik, menyalakan petasan menggunakan tali, serta mengaitkan besi pada besi lainnya. Murid-murid  melakukan kedua aktivitas tersebut secara bergantian.

Setelah semua kegiatan outbound selesai, murid-murid mendapat waktu istirahat yang diisi dengan acara makan siang dan berganti pakaian karena akan permainan basah-basahan. Permainan basah-basahan ini, seperti menangkap ikan dan mengisi pipa yang bocor, disambung dengan kegiatan berenang. Murid-murid terlihat menikmati waktu bersama di Sapadia. Setelah berenang, murid-murid membilas diri dan menikmati beberapa camilan penutup, yaitu bakso, pizza, dan snack lainnya. Setelah acara selesai, murid-murid pulang ke sekolah. Kegiatan ini mengajarkan pada siswa dan siswi untuk kerja sama dengan sesama, mengasah kreativitas, menyusun strategi, melatih kemandirian, serta membentuk karakter yang lebih baik.


  • ‹
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • ...
  • 224
  • 225
  • ›

SMP TARAKANITA 3 JAKARTA

Jl. Juraganan 1, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Dki Jakarta, dengan kode pos 12210.

Phone: (021) 5482262

Email: smp3_jkt@tarakanita.or.id

Useful Links

  • Home
  • About Us
  • News
  • Events
  • Career

Explore

  • Gallery
  • Article
  • Prestasi
  • Partner
  • Visi & Misi

Information

  • Sejarah Sekolah
  • Tentang Logo
  • About Profile
  • Cakupan Wilayah

Location


© 2026 SMP TARAKANITA 3 JAKARTA All Rights Reserved

WhatsApp

Chat only from Monday to Friday
Tarakanita
Tarakanita
07:00 - 15:00
Online
INFO (021) 5482262 Chat via WhatsApp