INFO (021) 3908836
Login Alumni Register
  • HOME
  • profile
    • Visi Misi dan Value
    • About
    • Sejarah Sekolah
    • Video Tour
    • Profil Guru
  • event
    • news
    • agenda
  • article
  • gallery
  • PPDB
  • achievement
  • creative corner
  • Facility
  • Extracurricular
Kegiatan Buka Puasa SMP Tarakanita 3

Kegiatan Buka Puasa SMP Tarakanita 3

Oleh Quincy Abigail Givanina Adistyanto dan Luminita Quincy Namora


SMP Tarakanita 3 mengadakan kegiatan buka puasa bersama para guru, karyawan, murid, serta orang tua murid. Kegiatan ini dilaksanakan di aula SMP Tarakanita 3. Buka puasa ini berlangsung pada Senin, 9 Maret 2026 pada pukul 17.30-19.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh guru, karyawan, peserta didik SMP dan SD, dan orang tua peserta didik. Kegiatan ini dipimpin oleh Ustad H. Nur Hasan. Acara buka puasa dengan tujuan untuk mempererat persaudaraan, meningkatkan toleransi, dan momen kebersamaan. 

Kegiatan berlangsung dengan tertib dan lancar. Sebelum berbuka puasa, ada acara mendengarkan sambutan, pembacaan ayat Al-quran oleh perwakilan peserta didik SMP, tausiah dan ceramah dari Ustad, serta doa bersama. Acara dilanjutkan dengan buka puasa, seluruh peserta menikmati hidangan yang telah disediakan. Acara buka puasa bersama ditutup dengan pulangnya orang tua peserta didik dan peserta didik. 


Retret SMP Tarakanita 3: Membangun Persaudaraan Sejati dalam Perjalanan Iman

Retret SMP Tarakanita 3: Membangun Persaudaraan Sejati dalam Perjalanan Iman

Oleh Christella Ginnifer dan Rayzel Delphynia Karlana


Pada tanggal 2-4 Maret 2026, siswa-siswi kelas 9 SMP Tarakanita 3 menjalani kegiatan retret yang dilaksanakan di Rumah Retret Puspanita. Rumah Retret Puspanita berada di bawah naungan suster kongregasi CB. Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan diri dan memperdalam iman melalui berbagai sesi sharing, dinamika kelompok, dan ibadat.

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan pengantar umum di aula dan dilanjut dengan menikmati snack. Setelah itu, para peserta mengikuti ibadat pembukaan di kapel sebagai tanda dimulainya kegiatan retret. Pada sesi pertama yang bertema “Aku Istimewa di Mata-Mu”, para siswa diajak untuk menyadari betapa berharga seseorang di mata Tuhan. Sesi ini membantu siswa-siswi memahami bahwa diri mereka diciptakan dengan tujuan yang berharga.

Setelah makan malam bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu “Teman yang Baik, Jalan yang Indah”. Pada sesi ini siswa-siswi diajak untuk merefleksikan pentingnya berada di lingkungan pertemanan yang sehat dan saling mendukung. Hari pertama ditutup dengan ibadat examen untuk merenungkan kegiatan sepanjang hari sebelum siswa-siswi beristirahat.

Hari kedua dimulai dengan meditasi untuk mempersiapkan hati menjalankan kegiatan hari kedua. Setelah sarapan, siswa-siswi mengikuti sesi ketiga dan keempat, yaitu bermain games bersama untuk melatih kerja sama. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi kelima dengan pentas seni. Pentas seni menjadi wadah siswa-siswi untuk mengekspresikan kreativitas. Hari kedua dilanjutkan dengan sesi keenam dengan tema “Tarakanita, Rumah Keduaku”. Sesi ini mengajak kita untuk menyadari betapa pentingnya sekolah sebagai tempat belajar, berkomunikasi, dan bersosialisasi. Sesi selanjutnya, pertemuan dengan bertema “Dosa dan Pengampunan” yang didampingi oleh romo. Siswa-siswi diajak untuk mengenal lebih dalam tentang dosa dan pengampunannya. Hari kedua ditutup dengan ibadat tobat, menyadarkan siswa-siswi bahwa manusia sesungguhnya tidak akan luput dari dosa dan sudah sepantasnya bagi kita sebagai manusia untuk mohon pengampunan. 

Retret berlangsung sampai hari ketiga. Hari ketiga dimulai dengan olahraga pagi bersama untuk menyegarkan diri. Sesi terakhir pun berjalan dengan tema “Arah dan Langkah Hidupku.” Mengajak siswa-siswi untuk terus melangkah mengejar cita-citanya dan merefleksikan  apa yang membebani setiap langkah siswa-siswi. Seluruh rangkaian acara retret ditutup dengan misa yang dipimpin oleh Romo Sunaryo SVD. Siswa-siswi telah selesai menjalani kegiatan retret yang telah dilakukan selama 3 hari lamanya. 

Dengan dilaksanakannya kegiatan retret ini, siswa-siswi diharapkan dapat membawa pulang ilmu dan hasil refleksi yang didapat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Retret tidak hanya memberikan siswa-siswi pengalaman yang berkesan, tetapi juga pembelajaran tentang iman, langkah hidup, dan kekeluargaan. Diharapkan semua ilmu yang didapat di kegiatan retret, dapat menjadi bekal untuk siswa-siswi melangkah menuju ke jenjang yang lebih tinggi.


Retret SMP Tarakanita 3: Membangun Persaudaraan Sejati dalam Perjalanan Iman

Retret SMP Tarakanita 3: Membangun Persaudaraan Sejati dalam Perjalanan Iman

Oleh Christella Ginnifer dan Rayzel Delphynia Karlana


Pada tanggal 2-4 Maret 2026, siswa-siswi kelas 9 SMP Tarakanita 3 menjalani kegiatan retret yang dilaksanakan di Rumah Retret Puspanita. Rumah Retret Puspanita berada di bawah naungan suster kongregasi CB. Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan diri dan memperdalam iman melalui berbagai sesi sharing, dinamika kelompok, dan ibadat.

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan pengantar umum di aula dan dilanjut dengan menikmati snack. Setelah itu, para peserta mengikuti ibadat pembukaan di kapel sebagai tanda dimulainya kegiatan retret. Pada sesi pertama yang bertema “Aku Istimewa di Mata-Mu”, para siswa diajak untuk menyadari betapa berharga seseorang di mata Tuhan. Sesi ini membantu siswa-siswi memahami bahwa diri mereka diciptakan dengan tujuan yang berharga.

Setelah makan malam bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu “Teman yang Baik, Jalan yang Indah”. Pada sesi ini siswa-siswi diajak untuk merefleksikan pentingnya berada di lingkungan pertemanan yang sehat dan saling mendukung. Hari pertama ditutup dengan ibadat examen untuk merenungkan kegiatan sepanjang hari sebelum siswa-siswi beristirahat.

Hari kedua dimulai dengan meditasi untuk mempersiapkan hati menjalankan kegiatan hari kedua. Setelah sarapan, siswa-siswi mengikuti sesi ketiga dan keempat, yaitu bermain games bersama untuk melatih kerja sama. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi kelima dengan pentas seni. Pentas seni menjadi wadah siswa-siswi untuk mengekspresikan kreativitas. Hari kedua dilanjutkan dengan sesi keenam dengan tema “Tarakanita, Rumah Keduaku”. Sesi ini mengajak kita untuk menyadari betapa pentingnya sekolah sebagai tempat belajar, berkomunikasi, dan bersosialisasi. Sesi selanjutnya, pertemuan dengan bertema “Dosa dan Pengampunan” yang didampingi oleh romo. Siswa-siswi diajak untuk mengenal lebih dalam tentang dosa dan pengampunannya. Hari kedua ditutup dengan ibadat tobat, menyadarkan siswa-siswi bahwa manusia sesungguhnya tidak akan luput dari dosa dan sudah sepantasnya bagi kita sebagai manusia untuk mohon pengampunan. 

Retret berlangsung sampai hari ketiga. Hari ketiga dimulai dengan olahraga pagi bersama untuk menyegarkan diri. Sesi terakhir pun berjalan dengan tema “Arah dan Langkah Hidupku.” Mengajak siswa-siswi untuk terus melangkah mengejar cita-citanya dan merefleksikan  apa yang membebani setiap langkah siswa-siswi. Seluruh rangkaian acara retret ditutup dengan misa yang dipimpin oleh Romo Sunaryo SVD. Siswa-siswi telah selesai menjalani kegiatan retret yang telah dilakukan selama 3 hari lamanya. 

Dengan dilaksanakannya kegiatan retret ini, siswa-siswi diharapkan dapat membawa pulang ilmu dan hasil refleksi yang didapat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Retret tidak hanya memberikan siswa-siswi pengalaman yang berkesan, tetapi juga pembelajaran tentang iman, langkah hidup, dan kekeluargaan. Diharapkan semua ilmu yang didapat di kegiatan retret, dapat menjadi bekal untuk siswa-siswi melangkah menuju ke jenjang yang lebih tinggi.


Retret SMP Tarakanita 3: Membangun Persaudaraan Sejati dalam Perjalanan Iman

Retret SMP Tarakanita 3: Membangun Persaudaraan Sejati dalam Perjalanan Iman

Oleh Christella Ginnifer dan Rayzel Delphynia Karlana


Pada tanggal 2-4 Maret 2026, siswa-siswi kelas 9 SMP Tarakanita 3 menjalani kegiatan retret yang dilaksanakan di Rumah Retret Puspanita. Rumah Retret Puspanita berada di bawah naungan suster kongregasi CB. Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan diri dan memperdalam iman melalui berbagai sesi sharing, dinamika kelompok, dan ibadat.

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan pengantar umum di aula dan dilanjut dengan menikmati snack. Setelah itu, para peserta mengikuti ibadat pembukaan di kapel sebagai tanda dimulainya kegiatan retret. Pada sesi pertama yang bertema “Aku Istimewa di Mata-Mu”, para siswa diajak untuk menyadari betapa berharga seseorang di mata Tuhan. Sesi ini membantu siswa-siswi memahami bahwa diri mereka diciptakan dengan tujuan yang berharga.

Setelah makan malam bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu “Teman yang Baik, Jalan yang Indah”. Pada sesi ini siswa-siswi diajak untuk merefleksikan pentingnya berada di lingkungan pertemanan yang sehat dan saling mendukung. Hari pertama ditutup dengan ibadat examen untuk merenungkan kegiatan sepanjang hari sebelum siswa-siswi beristirahat.

Hari kedua dimulai dengan meditasi untuk mempersiapkan hati menjalankan kegiatan hari kedua. Setelah sarapan, siswa-siswi mengikuti sesi ketiga dan keempat, yaitu bermain games bersama untuk melatih kerja sama. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi kelima dengan pentas seni. Pentas seni menjadi wadah siswa-siswi untuk mengekspresikan kreativitas. Hari kedua dilanjutkan dengan sesi keenam dengan tema “Tarakanita, Rumah Keduaku”. Sesi ini mengajak kita untuk menyadari betapa pentingnya sekolah sebagai tempat belajar, berkomunikasi, dan bersosialisasi. Sesi selanjutnya, pertemuan dengan bertema “Dosa dan Pengampunan” yang didampingi oleh romo. Siswa-siswi diajak untuk mengenal lebih dalam tentang dosa dan pengampunannya. Hari kedua ditutup dengan ibadat tobat, menyadarkan siswa-siswi bahwa manusia sesungguhnya tidak akan luput dari dosa dan sudah sepantasnya bagi kita sebagai manusia untuk mohon pengampunan. 

Retret berlangsung sampai hari ketiga. Hari ketiga dimulai dengan olahraga pagi bersama untuk menyegarkan diri. Sesi terakhir pun berjalan dengan tema “Arah dan Langkah Hidupku.” Mengajak siswa-siswi untuk terus melangkah mengejar cita-citanya dan merefleksikan  apa yang membebani setiap langkah siswa-siswi. Seluruh rangkaian acara retret ditutup dengan misa yang dipimpin oleh Romo Sunaryo SVD. Siswa-siswi telah selesai menjalani kegiatan retret yang telah dilakukan selama 3 hari lamanya. 

Dengan dilaksanakannya kegiatan retret ini, siswa-siswi diharapkan dapat membawa pulang ilmu dan hasil refleksi yang didapat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Retret tidak hanya memberikan siswa-siswi pengalaman yang berkesan, tetapi juga pembelajaran tentang iman, langkah hidup, dan kekeluargaan. Diharapkan semua ilmu yang didapat di kegiatan retret, dapat menjadi bekal untuk siswa-siswi melangkah menuju ke jenjang yang lebih tinggi.


Studi Lingkungan Kelas 8 SMP Tarakanita 3

Perjalanan Aestara di Yogyakarta 

Oleh : Filia Elvina, Nathanael Gavindra Agastyanto, dan Riandha Az-Zahra


Ada suatu pepatah yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, namun berbeda dengan angkatan 50 SMP Tarakanita 3 (Aestara) yang pergi belajar di luar lingkungan sekolah, tepatnya di Yogyakarta. Rabu, 11 Februari 2026 peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 memperoleh kesempatan belajar dan memperluas ilmu di Yogyakarta melalui kegiatan studi lingkungan yang berlangsung selama 3 hari. Pada studi lingkungan ini angkatan 50 (Aestara) belajar mengenai banyak hal, diawali kegiatan mengeksplorasi kreativitas memanfaatkan baju bekas yang tak lagi digunakan bersama Kak Yenny dan tim Rumah Kreatif Tukik pada tanggal 12 Februari 2026. Peserta didik kelas 8 diajak untuk mengelola limbah pakaian (tekstil) yang ternyata mencapai 92 juta ton per tahun di seluruh dunia. Aestara belajar mengolah pakaian bekas menjadi tas dengan bimbingan Kak Yenny dan tim, harapannya langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan baik mengalihkan limbah tekstil menjadi barang bermanfaat.

Setelah berkreasi bersama Kak Yenny dan tim, Aestara melanjutkan perjalanan menuju postulat Carolus Borromeus, peserta didik kelas 8 mempelajari banyak hal terkait sejarah dan latar belakang suster-suster kongregasi CB (Carolus Borromeus) dan Santo Carolus Borromeus. Pada kunjungan ini ke postulat Carolus Borromeus ini, Aestara didampingi oleh 4 suster, yaitu Suster Aprilia CB, Suster Cecilio CB, Suster Vernanda CB, dan Suster Courtney CB. Peserta didik diajak belajar proses pembuatan hosti yang ternyata melalui banyak tahapan. Tidak hanya belajar proses pembuatan hosti, peserta didik angkatan 50 juga diajak memperdalam informasi mengenai kongregasi suster CB dan Santo Carolus Borromeus dengan mengelilingi museum CB. Peserta didik kelas 8 mampu mempelajari banyak saksi sejarah berdirinya kongregasi suster CB, mulai dari kisah Elizabeth Gruyters sang pendiri kongregasi, pelayanan yang dilakukan suster Carolus Borromeus di seluruh belahan dunia (Tanzania, Brazil, Indonesia, Timor Leste, Belanda, Belgia) serta kisah hidup Santo Carolus Borromeus. 

Aestara pun melanjutkan perjalanan ke Desa Pancoh yang merupakan desa wisata dengan beberapa atraksi yang ditawarkan yaitu, Wisata Alam, Edukasi, dan Budaya. Sebelum memulai kegiatan berkebun, Aestara diberikan waktu 30 menit untuk menyantap makan siang. Sesudah makan siang, peserta didik berkesempatan mengelilingi area Desa Pancoh. Kegiatan yang dilakukan Aestara untuk menanam sayuran terong. Hangatnya sinar matahari tidak mengurangi semangat berkebun yang dipandu oleh Bapak Soeharjo. Beliau menjelaskan secara umum mengenai sayuran terong dan cara menanamnya. Bapak Soeharjo dan tim turut serta mendampingi Aestara saat praktik menanam bibit terong ke dalam polybag. 

Kegiatan berlanjut dari kunjungan ke desa Pancoh menuju Jogja Nature Space, di objek wisata ini peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 diajak untuk mengelilingi peninggalan erupsi Gunung Merapi. Aestara diajak untuk mengelilingi museum peninggalan sisa erupsi Merapi. Pos kedua ini, peserta didik mendengarkan cerita mengenai tragedi kejadian erupsi gunung merapi di tahun 2010 silam yang memakan banyak korban jiwa. Pengalaman ini merupakan pengalaman berharga yang menyenangkan karena dapat belajar terkait erupsi Gunung Merapi tempo lalu. Acara berikutnya adalah makan malam di KFC Malioboro. Jarak penginapan Aestara menuju lokasi tidak terlalu jauh, butuh waktu 10 menit. Aestara diberikan kebebasan untuk mengelilingi Malioboro sampai pukul 21.00 WIB. 

Jumat, 13 Februari 2026, hari ketiga studi lingkungan diawali dengan kunjungan Aestara menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Guwosari, Bantul. Sesampainya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ibu Arny, perwakilan guru pendamping SMP Tarakanita 3. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada peserta didik mengenai urgensi pengolahan sampah, mengingat permasalahan limbah yang semakin serius di kota-kota besar seperti Jakarta. Sesi ini berlanjut dengan pemaparan materi oleh Ibu Esti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ibu Esti menjelaskan bahwa TPST Guwosari merupakan fasilitas yang tidak hanya memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolah residu sampah menjadi kompos dan RDF (Refuse Derived Fuel). Ibu Esti mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti kadar nutrisi kompos yang belum optimal serta tingginya kelembapan sampah saat musim hujan yang memperlambat proses pengolahan. 

Tidak hanya belajar teori, acara berlanjut ke sesi praktik. Aestara dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengamati praktik langsung pengolahan sampah residu, fokus utama sesi ini adalah untuk membuat batako dari hasil abu pembakaran sampah di insinerator. Peserta didik mengamati semua tahap pembuatannya, dimulai dari pencampuran abu dengan semen dan air hingga menyatu. Campuran tersebut kemudian melalui dua pilihan metode cetak, yaitu menggunakan mesin pres atau secara manual dengan cetakan. Tahap terakhir adalah pengeringan, di mana batako yang telah dicetak diangin-anginkan hingga mengeras, biasanya proses pengeringan ini berdurasi selama 1 bulan hingga batako akhirnya dapat digunakan. Melalui demonstrasi di kunjungan ke TPST Guwosari ini, Aestara menyaksikan bahwa limbah yang tampak tak berguna dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Dilanjutkan dari kunjungan ke TPST Guwosari, Aestara kemudian mengunjungi PLTH Pantai Baru untuk mempelajari mengenai energi terbarukan. PLTH ini memanfaatkan energi angin dan radiasi matahari untuk memproduksi energi listrik. Proyek ini telah beroperasi selama 15 tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan listrik di kawasan Pantai baru yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik sama sekali. Selain itu, PLTH ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi untuk pengunjung yang ingin mempelajari lebih dalam tentang pembangkit listrik dan energi terbarukan. PLTH ini telah beroperasi dengan baik meskipun masih ada tantangan dalam pengembangannya. Tantangan utamanya memanfaatkan potensi energi lain seperti gelombang laut.

Kegiatan Aestara di Yogyakarta melanjutkan kunjungan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja. Wisata tersebut berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dikenal sebagai candi aktif, digunakan untuk upacara keagamaan umat Hindu. Candi Prambanan juga terkenal dengan cerita Ramayana yang menggambarkan kesetiaan Sinta kepada suaminya, Rama, meskipun mengalami banyak penderitaan. Tidak hanya membawakan cerita rakyat yang menarik bagi wisatawan, arsitektur dari Candi Prambanan ini memiliki pengaruh besar dari budaya India hal tersebut mampu dilihat dari patung-patungnya identik dengan ukiran khas India. Candi ini dibangun dengan teknik yang memungkinkan strukturnya untuk bertahan dari gempa bumi, di mana batu-batu tersebut hanya bergeser tanpa khawatir akan pecah. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan kepercayaan animisme yang kemudian digabungkan dengan agama Hindu. Kunjungan ke Candi Prambanan ini menutup cerita singkat mengenai perjalanan peserta didik kelas 8 angkatan 50, SMP Tarakanita 3 di Yogyakarta.


Studi Lingkungan Kelas 8 SMP Tarakanita 3

Perjalanan Aestara di Yogyakarta 

Oleh : Filia Elvina, Nathanael Gavindra Agastyanto, dan Riandha Az-Zahra


Ada suatu pepatah yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, namun berbeda dengan angkatan 50 SMP Tarakanita 3 (Aestara) yang pergi belajar di luar lingkungan sekolah, tepatnya di Yogyakarta. Rabu, 11 Februari 2026 peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 memperoleh kesempatan belajar dan memperluas ilmu di Yogyakarta melalui kegiatan studi lingkungan yang berlangsung selama 3 hari. Pada studi lingkungan ini angkatan 50 (Aestara) belajar mengenai banyak hal, diawali kegiatan mengeksplorasi kreativitas memanfaatkan baju bekas yang tak lagi digunakan bersama Kak Yenny dan tim Rumah Kreatif Tukik pada tanggal 12 Februari 2026. Peserta didik kelas 8 diajak untuk mengelola limbah pakaian (tekstil) yang ternyata mencapai 92 juta ton per tahun di seluruh dunia. Aestara belajar mengolah pakaian bekas menjadi tas dengan bimbingan Kak Yenny dan tim, harapannya langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan baik mengalihkan limbah tekstil menjadi barang bermanfaat.

Setelah berkreasi bersama Kak Yenny dan tim, Aestara melanjutkan perjalanan menuju postulat Carolus Borromeus, peserta didik kelas 8 mempelajari banyak hal terkait sejarah dan latar belakang suster-suster kongregasi CB (Carolus Borromeus) dan Santo Carolus Borromeus. Pada kunjungan ini ke postulat Carolus Borromeus ini, Aestara didampingi oleh 4 suster, yaitu Suster Aprilia CB, Suster Cecilio CB, Suster Vernanda CB, dan Suster Courtney CB. Peserta didik diajak belajar proses pembuatan hosti yang ternyata melalui banyak tahapan. Tidak hanya belajar proses pembuatan hosti, peserta didik angkatan 50 juga diajak memperdalam informasi mengenai kongregasi suster CB dan Santo Carolus Borromeus dengan mengelilingi museum CB. Peserta didik kelas 8 mampu mempelajari banyak saksi sejarah berdirinya kongregasi suster CB, mulai dari kisah Elizabeth Gruyters sang pendiri kongregasi, pelayanan yang dilakukan suster Carolus Borromeus di seluruh belahan dunia (Tanzania, Brazil, Indonesia, Timor Leste, Belanda, Belgia) serta kisah hidup Santo Carolus Borromeus. 

Aestara pun melanjutkan perjalanan ke Desa Pancoh yang merupakan desa wisata dengan beberapa atraksi yang ditawarkan yaitu, Wisata Alam, Edukasi, dan Budaya. Sebelum memulai kegiatan berkebun, Aestara diberikan waktu 30 menit untuk menyantap makan siang. Sesudah makan siang, peserta didik berkesempatan mengelilingi area Desa Pancoh. Kegiatan yang dilakukan Aestara untuk menanam sayuran terong. Hangatnya sinar matahari tidak mengurangi semangat berkebun yang dipandu oleh Bapak Soeharjo. Beliau menjelaskan secara umum mengenai sayuran terong dan cara menanamnya. Bapak Soeharjo dan tim turut serta mendampingi Aestara saat praktik menanam bibit terong ke dalam polybag. 

Kegiatan berlanjut dari kunjungan ke desa Pancoh menuju Jogja Nature Space, di objek wisata ini peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 diajak untuk mengelilingi peninggalan erupsi Gunung Merapi. Aestara diajak untuk mengelilingi museum peninggalan sisa erupsi Merapi. Pos kedua ini, peserta didik mendengarkan cerita mengenai tragedi kejadian erupsi gunung merapi di tahun 2010 silam yang memakan banyak korban jiwa. Pengalaman ini merupakan pengalaman berharga yang menyenangkan karena dapat belajar terkait erupsi Gunung Merapi tempo lalu. Acara berikutnya adalah makan malam di KFC Malioboro. Jarak penginapan Aestara menuju lokasi tidak terlalu jauh, butuh waktu 10 menit. Aestara diberikan kebebasan untuk mengelilingi Malioboro sampai pukul 21.00 WIB. 

Jumat, 13 Februari 2026, hari ketiga studi lingkungan diawali dengan kunjungan Aestara menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Guwosari, Bantul. Sesampainya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ibu Arny, perwakilan guru pendamping SMP Tarakanita 3. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada peserta didik mengenai urgensi pengolahan sampah, mengingat permasalahan limbah yang semakin serius di kota-kota besar seperti Jakarta. Sesi ini berlanjut dengan pemaparan materi oleh Ibu Esti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ibu Esti menjelaskan bahwa TPST Guwosari merupakan fasilitas yang tidak hanya memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolah residu sampah menjadi kompos dan RDF (Refuse Derived Fuel). Ibu Esti mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti kadar nutrisi kompos yang belum optimal serta tingginya kelembapan sampah saat musim hujan yang memperlambat proses pengolahan. 

Tidak hanya belajar teori, acara berlanjut ke sesi praktik. Aestara dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengamati praktik langsung pengolahan sampah residu, fokus utama sesi ini adalah untuk membuat batako dari hasil abu pembakaran sampah di insinerator. Peserta didik mengamati semua tahap pembuatannya, dimulai dari pencampuran abu dengan semen dan air hingga menyatu. Campuran tersebut kemudian melalui dua pilihan metode cetak, yaitu menggunakan mesin pres atau secara manual dengan cetakan. Tahap terakhir adalah pengeringan, di mana batako yang telah dicetak diangin-anginkan hingga mengeras, biasanya proses pengeringan ini berdurasi selama 1 bulan hingga batako akhirnya dapat digunakan. Melalui demonstrasi di kunjungan ke TPST Guwosari ini, Aestara menyaksikan bahwa limbah yang tampak tak berguna dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Dilanjutkan dari kunjungan ke TPST Guwosari, Aestara kemudian mengunjungi PLTH Pantai Baru untuk mempelajari mengenai energi terbarukan. PLTH ini memanfaatkan energi angin dan radiasi matahari untuk memproduksi energi listrik. Proyek ini telah beroperasi selama 15 tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan listrik di kawasan Pantai baru yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik sama sekali. Selain itu, PLTH ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi untuk pengunjung yang ingin mempelajari lebih dalam tentang pembangkit listrik dan energi terbarukan. PLTH ini telah beroperasi dengan baik meskipun masih ada tantangan dalam pengembangannya. Tantangan utamanya memanfaatkan potensi energi lain seperti gelombang laut.

Kegiatan Aestara di Yogyakarta melanjutkan kunjungan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja. Wisata tersebut berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dikenal sebagai candi aktif, digunakan untuk upacara keagamaan umat Hindu. Candi Prambanan juga terkenal dengan cerita Ramayana yang menggambarkan kesetiaan Sinta kepada suaminya, Rama, meskipun mengalami banyak penderitaan. Tidak hanya membawakan cerita rakyat yang menarik bagi wisatawan, arsitektur dari Candi Prambanan ini memiliki pengaruh besar dari budaya India hal tersebut mampu dilihat dari patung-patungnya identik dengan ukiran khas India. Candi ini dibangun dengan teknik yang memungkinkan strukturnya untuk bertahan dari gempa bumi, di mana batu-batu tersebut hanya bergeser tanpa khawatir akan pecah. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan kepercayaan animisme yang kemudian digabungkan dengan agama Hindu. Kunjungan ke Candi Prambanan ini menutup cerita singkat mengenai perjalanan peserta didik kelas 8 angkatan 50, SMP Tarakanita 3 di Yogyakarta.


Studi Lingkungan Kelas 8 SMP Tarakanita 3

Perjalanan Aestara di Yogyakarta 

Oleh : Filia Elvina, Nathanael Gavindra Agastyanto, dan Riandha Az-Zahra


Ada suatu pepatah yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, namun berbeda dengan angkatan 50 SMP Tarakanita 3 (Aestara) yang pergi belajar di luar lingkungan sekolah, tepatnya di Yogyakarta. Rabu, 11 Februari 2026 peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 memperoleh kesempatan belajar dan memperluas ilmu di Yogyakarta melalui kegiatan studi lingkungan yang berlangsung selama 3 hari. Pada studi lingkungan ini angkatan 50 (Aestara) belajar mengenai banyak hal, diawali kegiatan mengeksplorasi kreativitas memanfaatkan baju bekas yang tak lagi digunakan bersama Kak Yenny dan tim Rumah Kreatif Tukik pada tanggal 12 Februari 2026. Peserta didik kelas 8 diajak untuk mengelola limbah pakaian (tekstil) yang ternyata mencapai 92 juta ton per tahun di seluruh dunia. Aestara belajar mengolah pakaian bekas menjadi tas dengan bimbingan Kak Yenny dan tim, harapannya langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan baik mengalihkan limbah tekstil menjadi barang bermanfaat.

Setelah berkreasi bersama Kak Yenny dan tim, Aestara melanjutkan perjalanan menuju postulat Carolus Borromeus, peserta didik kelas 8 mempelajari banyak hal terkait sejarah dan latar belakang suster-suster kongregasi CB (Carolus Borromeus) dan Santo Carolus Borromeus. Pada kunjungan ini ke postulat Carolus Borromeus ini, Aestara didampingi oleh 4 suster, yaitu Suster Aprilia CB, Suster Cecilio CB, Suster Vernanda CB, dan Suster Courtney CB. Peserta didik diajak belajar proses pembuatan hosti yang ternyata melalui banyak tahapan. Tidak hanya belajar proses pembuatan hosti, peserta didik angkatan 50 juga diajak memperdalam informasi mengenai kongregasi suster CB dan Santo Carolus Borromeus dengan mengelilingi museum CB. Peserta didik kelas 8 mampu mempelajari banyak saksi sejarah berdirinya kongregasi suster CB, mulai dari kisah Elizabeth Gruyters sang pendiri kongregasi, pelayanan yang dilakukan suster Carolus Borromeus di seluruh belahan dunia (Tanzania, Brazil, Indonesia, Timor Leste, Belanda, Belgia) serta kisah hidup Santo Carolus Borromeus. 

Aestara pun melanjutkan perjalanan ke Desa Pancoh yang merupakan desa wisata dengan beberapa atraksi yang ditawarkan yaitu, Wisata Alam, Edukasi, dan Budaya. Sebelum memulai kegiatan berkebun, Aestara diberikan waktu 30 menit untuk menyantap makan siang. Sesudah makan siang, peserta didik berkesempatan mengelilingi area Desa Pancoh. Kegiatan yang dilakukan Aestara untuk menanam sayuran terong. Hangatnya sinar matahari tidak mengurangi semangat berkebun yang dipandu oleh Bapak Soeharjo. Beliau menjelaskan secara umum mengenai sayuran terong dan cara menanamnya. Bapak Soeharjo dan tim turut serta mendampingi Aestara saat praktik menanam bibit terong ke dalam polybag. 

Kegiatan berlanjut dari kunjungan ke desa Pancoh menuju Jogja Nature Space, di objek wisata ini peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 diajak untuk mengelilingi peninggalan erupsi Gunung Merapi. Aestara diajak untuk mengelilingi museum peninggalan sisa erupsi Merapi. Pos kedua ini, peserta didik mendengarkan cerita mengenai tragedi kejadian erupsi gunung merapi di tahun 2010 silam yang memakan banyak korban jiwa. Pengalaman ini merupakan pengalaman berharga yang menyenangkan karena dapat belajar terkait erupsi Gunung Merapi tempo lalu. Acara berikutnya adalah makan malam di KFC Malioboro. Jarak penginapan Aestara menuju lokasi tidak terlalu jauh, butuh waktu 10 menit. Aestara diberikan kebebasan untuk mengelilingi Malioboro sampai pukul 21.00 WIB. 

Jumat, 13 Februari 2026, hari ketiga studi lingkungan diawali dengan kunjungan Aestara menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Guwosari, Bantul. Sesampainya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ibu Arny, perwakilan guru pendamping SMP Tarakanita 3. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada peserta didik mengenai urgensi pengolahan sampah, mengingat permasalahan limbah yang semakin serius di kota-kota besar seperti Jakarta. Sesi ini berlanjut dengan pemaparan materi oleh Ibu Esti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ibu Esti menjelaskan bahwa TPST Guwosari merupakan fasilitas yang tidak hanya memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolah residu sampah menjadi kompos dan RDF (Refuse Derived Fuel). Ibu Esti mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti kadar nutrisi kompos yang belum optimal serta tingginya kelembapan sampah saat musim hujan yang memperlambat proses pengolahan. 

Tidak hanya belajar teori, acara berlanjut ke sesi praktik. Aestara dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengamati praktik langsung pengolahan sampah residu, fokus utama sesi ini adalah untuk membuat batako dari hasil abu pembakaran sampah di insinerator. Peserta didik mengamati semua tahap pembuatannya, dimulai dari pencampuran abu dengan semen dan air hingga menyatu. Campuran tersebut kemudian melalui dua pilihan metode cetak, yaitu menggunakan mesin pres atau secara manual dengan cetakan. Tahap terakhir adalah pengeringan, di mana batako yang telah dicetak diangin-anginkan hingga mengeras, biasanya proses pengeringan ini berdurasi selama 1 bulan hingga batako akhirnya dapat digunakan. Melalui demonstrasi di kunjungan ke TPST Guwosari ini, Aestara menyaksikan bahwa limbah yang tampak tak berguna dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Dilanjutkan dari kunjungan ke TPST Guwosari, Aestara kemudian mengunjungi PLTH Pantai Baru untuk mempelajari mengenai energi terbarukan. PLTH ini memanfaatkan energi angin dan radiasi matahari untuk memproduksi energi listrik. Proyek ini telah beroperasi selama 15 tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan listrik di kawasan Pantai baru yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik sama sekali. Selain itu, PLTH ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi untuk pengunjung yang ingin mempelajari lebih dalam tentang pembangkit listrik dan energi terbarukan. PLTH ini telah beroperasi dengan baik meskipun masih ada tantangan dalam pengembangannya. Tantangan utamanya memanfaatkan potensi energi lain seperti gelombang laut.

Kegiatan Aestara di Yogyakarta melanjutkan kunjungan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja. Wisata tersebut berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dikenal sebagai candi aktif, digunakan untuk upacara keagamaan umat Hindu. Candi Prambanan juga terkenal dengan cerita Ramayana yang menggambarkan kesetiaan Sinta kepada suaminya, Rama, meskipun mengalami banyak penderitaan. Tidak hanya membawakan cerita rakyat yang menarik bagi wisatawan, arsitektur dari Candi Prambanan ini memiliki pengaruh besar dari budaya India hal tersebut mampu dilihat dari patung-patungnya identik dengan ukiran khas India. Candi ini dibangun dengan teknik yang memungkinkan strukturnya untuk bertahan dari gempa bumi, di mana batu-batu tersebut hanya bergeser tanpa khawatir akan pecah. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan kepercayaan animisme yang kemudian digabungkan dengan agama Hindu. Kunjungan ke Candi Prambanan ini menutup cerita singkat mengenai perjalanan peserta didik kelas 8 angkatan 50, SMP Tarakanita 3 di Yogyakarta.


Aksi Peduli Kasih Tarakanita 3

Aksi Peduli Kasih Tarakanita 3 

oleh Rafaela Gytha Anindya Prasetyo 


Sekolah Tarakanita 3 turut serta dalam berbagi kasih untuk warga di sekitar sekolah. Perwakilan dari TK-SD-SMP bersatu bersama turun ke rumah-rumah RT/RW sekitar sekolah dalam rangka ucapan syukur atas umur yang bertambah 3 jenjang yang bersamaan di bulan Januari ini. Aksi peduli kasih ini akan dibagikan kepada warga-warga oleh RT/RW setempat.

Beberapa perwakilan baik dari peserta didik, guru, dan karyawan TK-SD-SMP berperan besar dalam kegiatan tersebut. Wujud aksi peduli kasih yang diberikan adalah beberapa bahan pangan dan rumah tangga, seperti mie, sarden, gula, teh, dan lainnya dikumpulkan dari seluruh warga sekolah baik peserta didik serta bapak, ibu guru, dan karyawan. Pada kesempatan mengajarkan untuk berbagi kasih pada orang di sekitar.


Perayaan HUT Ke-51 SMP Tarakanita 3

Perayaan HUT Ke-51 SMP Tarakanita 3


Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) sekolah SMP Tarakanita 3 ke-51 diawali dengan pelaksanaan Misa Syukur yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Misa ini menjadi ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas penyertaan-Nya selama 51 tahun perjalanan sekolah dalam dunia pendidikan. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan prosesi potong tumpeng dan tiup lilin sebagai simbol rasa syukur atas bertambahnya usia sekolah. Momen ini menjadi ungkapan harapan agar sekolah senantiasa diberkati dan terus berkembang.


Rangkaian kegiatan berikutnya diisi dengan berbagai penampilan siswa dan siswi. Beragam pertunjukan ditampilkan sebagai wadah menunjukan bakat dan kreativitas peserta didik. Melalui penampilan tersebut, siswa dan siswi menunjukkan partisipasi aktif. Sebagai penutup, seluruh warga sekolah mengikuti flashmob bersama. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan kekompakan seluruh warga sekolah. Perayaan HUT sekolah ke-51 menjadi momen untuk mempererat persaudaraan serta memperkuat semangat melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.


  • ‹
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • ...
  • 226
  • 227
  • ›

SMP TARAKANITA 3 JAKARTA

Jl. Juraganan 1, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Dki Jakarta, dengan kode pos 12210.

Phone: (021) 5482262

Email: cspusat@tarakanita.sch.id

Useful Links

  • Home
  • About Us
  • News
  • Events
  • Career

Explore

  • Gallery
  • Article
  • Prestasi
  • Partner
  • Visi & Misi

Information

  • Sejarah Sekolah
  • Tentang Logo
  • About Profile
  • Cakupan Wilayah

Location


© 2026 SMP TARAKANITA 3 JAKARTA All Rights Reserved