Lava

Studi Lingkungan Kelas 8 SMP Tarakanita 3

<span id="docs-internal-guid-8ff35b65-7fff-ff84-22d7-5d2f8e2021b9"><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-align: center;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 13pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-weight: 700; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Perjalanan Aestara di Yogyakarta&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-align: center;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Oleh : Filia Elvina, Nathanael Gavindra Agastyanto, dan Riandha Az-Zahra</span></p><br><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Ada suatu pepatah yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, namun berbeda dengan angkatan 50 SMP Tarakanita 3 (Aestara) yang pergi belajar di luar lingkungan sekolah, tepatnya di Yogyakarta. Rabu, 11 Februari 2026 peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 memperoleh kesempatan belajar dan memperluas ilmu di Yogyakarta melalui kegiatan studi lingkungan yang berlangsung selama 3 hari. Pada studi lingkungan ini angkatan 50 (Aestara) belajar mengenai banyak hal, diawali kegiatan mengeksplorasi kreativitas memanfaatkan baju bekas yang tak lagi digunakan bersama Kak Yenny dan tim Rumah Kreatif Tukik pada tanggal 12 Februari 2026. Peserta didik kelas 8 diajak untuk mengelola limbah pakaian (tekstil) yang ternyata mencapai 92 juta ton per tahun di seluruh dunia. Aestara belajar mengolah pakaian bekas menjadi tas dengan bimbingan Kak Yenny dan tim, harapannya langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan baik mengalihkan limbah tekstil menjadi barang bermanfaat.</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Setelah berkreasi bersama Kak Yenny dan tim, Aestara melanjutkan perjalanan menuju postulat Carolus Borromeus, peserta didik kelas 8 mempelajari banyak hal terkait sejarah dan latar belakang suster-suster kongregasi CB (Carolus Borromeus) dan Santo Carolus Borromeus. Pada kunjungan ini ke postulat Carolus Borromeus ini, Aestara didampingi oleh 4 suster, yaitu Suster Aprilia CB, Suster Cecilio CB, Suster Vernanda CB, dan Suster Courtney CB. Peserta didik diajak belajar proses pembuatan hosti yang ternyata melalui banyak tahapan. Tidak hanya belajar proses pembuatan hosti, peserta didik angkatan 50 juga diajak memperdalam informasi mengenai kongregasi suster CB dan Santo Carolus Borromeus dengan mengelilingi museum CB. Peserta didik kelas 8 mampu mempelajari banyak saksi sejarah berdirinya kongregasi suster CB, mulai dari kisah Elizabeth Gruyters sang pendiri kongregasi, pelayanan yang dilakukan suster Carolus Borromeus di seluruh belahan dunia (Tanzania, Brazil, Indonesia, Timor Leste, Belanda, Belgia) serta kisah hidup Santo Carolus Borromeus.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Aestara pun melanjutkan perjalanan ke Desa Pancoh yang merupakan desa wisata dengan beberapa atraksi yang ditawarkan yaitu, Wisata Alam, Edukasi, dan Budaya. Sebelum memulai kegiatan berkebun, Aestara diberikan waktu 30 menit untuk menyantap makan siang. Sesudah makan siang, peserta didik berkesempatan mengelilingi area Desa Pancoh. Kegiatan yang dilakukan Aestara untuk menanam sayuran terong. Hangatnya sinar matahari tidak mengurangi semangat berkebun yang dipandu oleh Bapak Soeharjo. Beliau menjelaskan secara umum mengenai sayuran terong dan cara menanamnya. Bapak Soeharjo dan tim turut serta mendampingi Aestara saat praktik menanam bibit terong ke dalam </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">polybag</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Kegiatan berlanjut dari kunjungan ke desa Pancoh menuju Jogja </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Nature Space</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">, di objek wisata ini peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 diajak untuk mengelilingi peninggalan erupsi Gunung Merapi. Aestara diajak untuk mengelilingi museum peninggalan sisa erupsi Merapi. Pos kedua ini, peserta didik mendengarkan cerita mengenai tragedi kejadian erupsi gunung merapi di tahun 2010 silam yang memakan banyak korban jiwa. Pengalaman ini merupakan pengalaman berharga yang menyenangkan karena dapat belajar terkait erupsi Gunung Merapi tempo lalu. Acara berikutnya adalah makan malam di KFC Malioboro. Jarak penginapan Aestara menuju lokasi tidak terlalu jauh, butuh waktu 10 menit. Aestara diberikan kebebasan untuk mengelilingi Malioboro sampai pukul 21.00 WIB.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Jumat, 13 Februari 2026, hari ketiga studi lingkungan diawali dengan kunjungan Aestara menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Guwosari, Bantul. Sesampainya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ibu Arny, perwakilan guru pendamping SMP Tarakanita 3. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada peserta didik mengenai urgensi pengolahan sampah, mengingat permasalahan limbah yang semakin serius di kota-kota besar seperti Jakarta. Sesi ini berlanjut dengan pemaparan materi oleh Ibu Esti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ibu Esti menjelaskan bahwa TPST Guwosari merupakan fasilitas yang tidak hanya memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolah residu sampah menjadi kompos dan RDF (</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Refuse Derived Fuel</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">). Ibu Esti mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti kadar nutrisi kompos yang belum optimal serta tingginya kelembapan sampah saat musim hujan yang memperlambat proses pengolahan.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Tidak hanya belajar teori, acara berlanjut ke sesi praktik. Aestara dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengamati praktik langsung pengolahan sampah residu, fokus utama sesi ini adalah untuk membuat batako dari hasil abu pembakaran sampah di insinerator. Peserta didik mengamati semua tahap pembuatannya, dimulai dari pencampuran abu dengan semen dan air hingga menyatu. Campuran tersebut kemudian melalui dua pilihan metode cetak, yaitu menggunakan mesin pres atau secara manual dengan cetakan. Tahap terakhir adalah pengeringan, di mana batako yang telah dicetak diangin-anginkan hingga mengeras, biasanya proses pengeringan ini berdurasi selama 1 bulan hingga batako akhirnya dapat digunakan. Melalui demonstrasi di kunjungan ke TPST Guwosari ini, Aestara menyaksikan bahwa limbah yang tampak tak berguna dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Dilanjutkan dari kunjungan ke TPST Guwosari, Aestara kemudian mengunjungi PLTH Pantai Baru untuk mempelajari mengenai energi terbarukan. PLTH ini memanfaatkan energi angin dan radiasi matahari untuk memproduksi energi listrik. Proyek ini telah beroperasi selama 15 tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan listrik di kawasan Pantai baru yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik sama sekali. Selain itu, PLTH ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi untuk pengunjung yang ingin mempelajari lebih dalam tentang pembangkit listrik dan energi terbarukan. PLTH ini telah beroperasi dengan baik meskipun masih ada tantangan dalam pengembangannya. Tantangan utamanya memanfaatkan potensi energi lain seperti gelombang laut.</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Kegiatan Aestara di Yogyakarta melanjutkan kunjungan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar kedua di dunia setelah </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Angkor Wat</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;"> di Kamboja. Wisata tersebut berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dikenal sebagai candi aktif, digunakan untuk upacara keagamaan umat Hindu. Candi Prambanan juga terkenal dengan cerita Ramayana yang menggambarkan kesetiaan Sinta kepada suaminya, Rama, meskipun mengalami banyak penderitaan. Tidak hanya membawakan cerita rakyat yang menarik bagi wisatawan, arsitektur dari Candi Prambanan ini memiliki pengaruh besar dari budaya India hal tersebut mampu dilihat dari patung-patungnya identik dengan ukiran khas India. Candi ini dibangun dengan teknik yang memungkinkan strukturnya untuk bertahan dari gempa bumi, di mana batu-batu tersebut hanya bergeser tanpa khawatir akan pecah. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan kepercayaan animisme yang kemudian digabungkan dengan agama Hindu. Kunjungan ke Candi Prambanan ini menutup cerita singkat mengenai perjalanan peserta didik kelas 8 angkatan 50, SMP Tarakanita 3 di Yogyakarta.</span></p><br></span>
item1

Panen - September 2014

item2

Dianpinru - September 2014

item3

Hari Pangan Sedunia

item4

Carolus Day 2014

item5

Tanpa Judul

item6

Tanpa Judul

item7

RETRET GURU/KARYAWAN 2014

item8

Tartig Cup ke-6

item9

Seminar Kesehatan

item10

Natal dan Tahun Baru 2015

item11

Pelantikan Pengurus OSIS

item12

MEMBUAT SANDWICH

Lava

Studi Lingkungan Kelas 8 SMP Tarakanita 3

<span id="docs-internal-guid-8ff35b65-7fff-ff84-22d7-5d2f8e2021b9"><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-align: center;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 13pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-weight: 700; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Perjalanan Aestara di Yogyakarta&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-align: center;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Oleh : Filia Elvina, Nathanael Gavindra Agastyanto, dan Riandha Az-Zahra</span></p><br><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Ada suatu pepatah yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, namun berbeda dengan angkatan 50 SMP Tarakanita 3 (Aestara) yang pergi belajar di luar lingkungan sekolah, tepatnya di Yogyakarta. Rabu, 11 Februari 2026 peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 memperoleh kesempatan belajar dan memperluas ilmu di Yogyakarta melalui kegiatan studi lingkungan yang berlangsung selama 3 hari. Pada studi lingkungan ini angkatan 50 (Aestara) belajar mengenai banyak hal, diawali kegiatan mengeksplorasi kreativitas memanfaatkan baju bekas yang tak lagi digunakan bersama Kak Yenny dan tim Rumah Kreatif Tukik pada tanggal 12 Februari 2026. Peserta didik kelas 8 diajak untuk mengelola limbah pakaian (tekstil) yang ternyata mencapai 92 juta ton per tahun di seluruh dunia. Aestara belajar mengolah pakaian bekas menjadi tas dengan bimbingan Kak Yenny dan tim, harapannya langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan baik mengalihkan limbah tekstil menjadi barang bermanfaat.</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Setelah berkreasi bersama Kak Yenny dan tim, Aestara melanjutkan perjalanan menuju postulat Carolus Borromeus, peserta didik kelas 8 mempelajari banyak hal terkait sejarah dan latar belakang suster-suster kongregasi CB (Carolus Borromeus) dan Santo Carolus Borromeus. Pada kunjungan ini ke postulat Carolus Borromeus ini, Aestara didampingi oleh 4 suster, yaitu Suster Aprilia CB, Suster Cecilio CB, Suster Vernanda CB, dan Suster Courtney CB. Peserta didik diajak belajar proses pembuatan hosti yang ternyata melalui banyak tahapan. Tidak hanya belajar proses pembuatan hosti, peserta didik angkatan 50 juga diajak memperdalam informasi mengenai kongregasi suster CB dan Santo Carolus Borromeus dengan mengelilingi museum CB. Peserta didik kelas 8 mampu mempelajari banyak saksi sejarah berdirinya kongregasi suster CB, mulai dari kisah Elizabeth Gruyters sang pendiri kongregasi, pelayanan yang dilakukan suster Carolus Borromeus di seluruh belahan dunia (Tanzania, Brazil, Indonesia, Timor Leste, Belanda, Belgia) serta kisah hidup Santo Carolus Borromeus.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Aestara pun melanjutkan perjalanan ke Desa Pancoh yang merupakan desa wisata dengan beberapa atraksi yang ditawarkan yaitu, Wisata Alam, Edukasi, dan Budaya. Sebelum memulai kegiatan berkebun, Aestara diberikan waktu 30 menit untuk menyantap makan siang. Sesudah makan siang, peserta didik berkesempatan mengelilingi area Desa Pancoh. Kegiatan yang dilakukan Aestara untuk menanam sayuran terong. Hangatnya sinar matahari tidak mengurangi semangat berkebun yang dipandu oleh Bapak Soeharjo. Beliau menjelaskan secara umum mengenai sayuran terong dan cara menanamnya. Bapak Soeharjo dan tim turut serta mendampingi Aestara saat praktik menanam bibit terong ke dalam </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">polybag</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Kegiatan berlanjut dari kunjungan ke desa Pancoh menuju Jogja </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Nature Space</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">, di objek wisata ini peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 diajak untuk mengelilingi peninggalan erupsi Gunung Merapi. Aestara diajak untuk mengelilingi museum peninggalan sisa erupsi Merapi. Pos kedua ini, peserta didik mendengarkan cerita mengenai tragedi kejadian erupsi gunung merapi di tahun 2010 silam yang memakan banyak korban jiwa. Pengalaman ini merupakan pengalaman berharga yang menyenangkan karena dapat belajar terkait erupsi Gunung Merapi tempo lalu. Acara berikutnya adalah makan malam di KFC Malioboro. Jarak penginapan Aestara menuju lokasi tidak terlalu jauh, butuh waktu 10 menit. Aestara diberikan kebebasan untuk mengelilingi Malioboro sampai pukul 21.00 WIB.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Jumat, 13 Februari 2026, hari ketiga studi lingkungan diawali dengan kunjungan Aestara menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Guwosari, Bantul. Sesampainya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ibu Arny, perwakilan guru pendamping SMP Tarakanita 3. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada peserta didik mengenai urgensi pengolahan sampah, mengingat permasalahan limbah yang semakin serius di kota-kota besar seperti Jakarta. Sesi ini berlanjut dengan pemaparan materi oleh Ibu Esti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ibu Esti menjelaskan bahwa TPST Guwosari merupakan fasilitas yang tidak hanya memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolah residu sampah menjadi kompos dan RDF (</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Refuse Derived Fuel</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">). Ibu Esti mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti kadar nutrisi kompos yang belum optimal serta tingginya kelembapan sampah saat musim hujan yang memperlambat proses pengolahan.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Tidak hanya belajar teori, acara berlanjut ke sesi praktik. Aestara dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengamati praktik langsung pengolahan sampah residu, fokus utama sesi ini adalah untuk membuat batako dari hasil abu pembakaran sampah di insinerator. Peserta didik mengamati semua tahap pembuatannya, dimulai dari pencampuran abu dengan semen dan air hingga menyatu. Campuran tersebut kemudian melalui dua pilihan metode cetak, yaitu menggunakan mesin pres atau secara manual dengan cetakan. Tahap terakhir adalah pengeringan, di mana batako yang telah dicetak diangin-anginkan hingga mengeras, biasanya proses pengeringan ini berdurasi selama 1 bulan hingga batako akhirnya dapat digunakan. Melalui demonstrasi di kunjungan ke TPST Guwosari ini, Aestara menyaksikan bahwa limbah yang tampak tak berguna dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Dilanjutkan dari kunjungan ke TPST Guwosari, Aestara kemudian mengunjungi PLTH Pantai Baru untuk mempelajari mengenai energi terbarukan. PLTH ini memanfaatkan energi angin dan radiasi matahari untuk memproduksi energi listrik. Proyek ini telah beroperasi selama 15 tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan listrik di kawasan Pantai baru yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik sama sekali. Selain itu, PLTH ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi untuk pengunjung yang ingin mempelajari lebih dalam tentang pembangkit listrik dan energi terbarukan. PLTH ini telah beroperasi dengan baik meskipun masih ada tantangan dalam pengembangannya. Tantangan utamanya memanfaatkan potensi energi lain seperti gelombang laut.</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Kegiatan Aestara di Yogyakarta melanjutkan kunjungan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar kedua di dunia setelah </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Angkor Wat</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;"> di Kamboja. Wisata tersebut berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dikenal sebagai candi aktif, digunakan untuk upacara keagamaan umat Hindu. Candi Prambanan juga terkenal dengan cerita Ramayana yang menggambarkan kesetiaan Sinta kepada suaminya, Rama, meskipun mengalami banyak penderitaan. Tidak hanya membawakan cerita rakyat yang menarik bagi wisatawan, arsitektur dari Candi Prambanan ini memiliki pengaruh besar dari budaya India hal tersebut mampu dilihat dari patung-patungnya identik dengan ukiran khas India. Candi ini dibangun dengan teknik yang memungkinkan strukturnya untuk bertahan dari gempa bumi, di mana batu-batu tersebut hanya bergeser tanpa khawatir akan pecah. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan kepercayaan animisme yang kemudian digabungkan dengan agama Hindu. Kunjungan ke Candi Prambanan ini menutup cerita singkat mengenai perjalanan peserta didik kelas 8 angkatan 50, SMP Tarakanita 3 di Yogyakarta.</span></p><br></span>
item1

Panen - September 2014

item2

Dianpinru - September 2014

item3

Hari Pangan Sedunia

item4

Carolus Day 2014

item5

Tanpa Judul

item6

Tanpa Judul

item7

RETRET GURU/KARYAWAN 2014

item8

Tartig Cup ke-6

item9

Seminar Kesehatan

item10

Natal dan Tahun Baru 2015

item11

Pelantikan Pengurus OSIS

item12

MEMBUAT SANDWICH

Lava

Studi Lingkungan Kelas 8 SMP Tarakanita 3

<span id="docs-internal-guid-8ff35b65-7fff-ff84-22d7-5d2f8e2021b9"><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-align: center;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 13pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-weight: 700; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Perjalanan Aestara di Yogyakarta&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-align: center;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Oleh : Filia Elvina, Nathanael Gavindra Agastyanto, dan Riandha Az-Zahra</span></p><br><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Ada suatu pepatah yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, namun berbeda dengan angkatan 50 SMP Tarakanita 3 (Aestara) yang pergi belajar di luar lingkungan sekolah, tepatnya di Yogyakarta. Rabu, 11 Februari 2026 peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 memperoleh kesempatan belajar dan memperluas ilmu di Yogyakarta melalui kegiatan studi lingkungan yang berlangsung selama 3 hari. Pada studi lingkungan ini angkatan 50 (Aestara) belajar mengenai banyak hal, diawali kegiatan mengeksplorasi kreativitas memanfaatkan baju bekas yang tak lagi digunakan bersama Kak Yenny dan tim Rumah Kreatif Tukik pada tanggal 12 Februari 2026. Peserta didik kelas 8 diajak untuk mengelola limbah pakaian (tekstil) yang ternyata mencapai 92 juta ton per tahun di seluruh dunia. Aestara belajar mengolah pakaian bekas menjadi tas dengan bimbingan Kak Yenny dan tim, harapannya langkah kecil ini dapat menjadi kebiasaan baik mengalihkan limbah tekstil menjadi barang bermanfaat.</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Setelah berkreasi bersama Kak Yenny dan tim, Aestara melanjutkan perjalanan menuju postulat Carolus Borromeus, peserta didik kelas 8 mempelajari banyak hal terkait sejarah dan latar belakang suster-suster kongregasi CB (Carolus Borromeus) dan Santo Carolus Borromeus. Pada kunjungan ini ke postulat Carolus Borromeus ini, Aestara didampingi oleh 4 suster, yaitu Suster Aprilia CB, Suster Cecilio CB, Suster Vernanda CB, dan Suster Courtney CB. Peserta didik diajak belajar proses pembuatan hosti yang ternyata melalui banyak tahapan. Tidak hanya belajar proses pembuatan hosti, peserta didik angkatan 50 juga diajak memperdalam informasi mengenai kongregasi suster CB dan Santo Carolus Borromeus dengan mengelilingi museum CB. Peserta didik kelas 8 mampu mempelajari banyak saksi sejarah berdirinya kongregasi suster CB, mulai dari kisah Elizabeth Gruyters sang pendiri kongregasi, pelayanan yang dilakukan suster Carolus Borromeus di seluruh belahan dunia (Tanzania, Brazil, Indonesia, Timor Leste, Belanda, Belgia) serta kisah hidup Santo Carolus Borromeus.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Aestara pun melanjutkan perjalanan ke Desa Pancoh yang merupakan desa wisata dengan beberapa atraksi yang ditawarkan yaitu, Wisata Alam, Edukasi, dan Budaya. Sebelum memulai kegiatan berkebun, Aestara diberikan waktu 30 menit untuk menyantap makan siang. Sesudah makan siang, peserta didik berkesempatan mengelilingi area Desa Pancoh. Kegiatan yang dilakukan Aestara untuk menanam sayuran terong. Hangatnya sinar matahari tidak mengurangi semangat berkebun yang dipandu oleh Bapak Soeharjo. Beliau menjelaskan secara umum mengenai sayuran terong dan cara menanamnya. Bapak Soeharjo dan tim turut serta mendampingi Aestara saat praktik menanam bibit terong ke dalam </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">polybag</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Kegiatan berlanjut dari kunjungan ke desa Pancoh menuju Jogja </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Nature Space</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">, di objek wisata ini peserta didik kelas 8 SMP Tarakanita 3 diajak untuk mengelilingi peninggalan erupsi Gunung Merapi. Aestara diajak untuk mengelilingi museum peninggalan sisa erupsi Merapi. Pos kedua ini, peserta didik mendengarkan cerita mengenai tragedi kejadian erupsi gunung merapi di tahun 2010 silam yang memakan banyak korban jiwa. Pengalaman ini merupakan pengalaman berharga yang menyenangkan karena dapat belajar terkait erupsi Gunung Merapi tempo lalu. Acara berikutnya adalah makan malam di KFC Malioboro. Jarak penginapan Aestara menuju lokasi tidak terlalu jauh, butuh waktu 10 menit. Aestara diberikan kebebasan untuk mengelilingi Malioboro sampai pukul 21.00 WIB.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Jumat, 13 Februari 2026, hari ketiga studi lingkungan diawali dengan kunjungan Aestara menuju TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Guwosari, Bantul. Sesampainya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ibu Arny, perwakilan guru pendamping SMP Tarakanita 3. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada peserta didik mengenai urgensi pengolahan sampah, mengingat permasalahan limbah yang semakin serius di kota-kota besar seperti Jakarta. Sesi ini berlanjut dengan pemaparan materi oleh Ibu Esti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ibu Esti menjelaskan bahwa TPST Guwosari merupakan fasilitas yang tidak hanya memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolah residu sampah menjadi kompos dan RDF (</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Refuse Derived Fuel</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">). Ibu Esti mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti kadar nutrisi kompos yang belum optimal serta tingginya kelembapan sampah saat musim hujan yang memperlambat proses pengolahan.&nbsp;</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Tidak hanya belajar teori, acara berlanjut ke sesi praktik. Aestara dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengamati praktik langsung pengolahan sampah residu, fokus utama sesi ini adalah untuk membuat batako dari hasil abu pembakaran sampah di insinerator. Peserta didik mengamati semua tahap pembuatannya, dimulai dari pencampuran abu dengan semen dan air hingga menyatu. Campuran tersebut kemudian melalui dua pilihan metode cetak, yaitu menggunakan mesin pres atau secara manual dengan cetakan. Tahap terakhir adalah pengeringan, di mana batako yang telah dicetak diangin-anginkan hingga mengeras, biasanya proses pengeringan ini berdurasi selama 1 bulan hingga batako akhirnya dapat digunakan. Melalui demonstrasi di kunjungan ke TPST Guwosari ini, Aestara menyaksikan bahwa limbah yang tampak tak berguna dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Dilanjutkan dari kunjungan ke TPST Guwosari, Aestara kemudian mengunjungi PLTH Pantai Baru untuk mempelajari mengenai energi terbarukan. PLTH ini memanfaatkan energi angin dan radiasi matahari untuk memproduksi energi listrik. Proyek ini telah beroperasi selama 15 tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan listrik di kawasan Pantai baru yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik sama sekali. Selain itu, PLTH ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi untuk pengunjung yang ingin mempelajari lebih dalam tentang pembangkit listrik dan energi terbarukan. PLTH ini telah beroperasi dengan baik meskipun masih ada tantangan dalam pengembangannya. Tantangan utamanya memanfaatkan potensi energi lain seperti gelombang laut.</span></p><p dir="ltr" style="line-height:1.7999999999999998;text-indent: 36pt;text-align: justify;margin-top:0pt;margin-bottom:0pt;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Kegiatan Aestara di Yogyakarta melanjutkan kunjungan ke Candi Prambanan. Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar kedua di dunia setelah </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-style: italic; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;">Angkor Wat</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; background-color: transparent; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; vertical-align: baseline; white-space: pre-wrap;"> di Kamboja. Wisata tersebut berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dikenal sebagai candi aktif, digunakan untuk upacara keagamaan umat Hindu. Candi Prambanan juga terkenal dengan cerita Ramayana yang menggambarkan kesetiaan Sinta kepada suaminya, Rama, meskipun mengalami banyak penderitaan. Tidak hanya membawakan cerita rakyat yang menarik bagi wisatawan, arsitektur dari Candi Prambanan ini memiliki pengaruh besar dari budaya India hal tersebut mampu dilihat dari patung-patungnya identik dengan ukiran khas India. Candi ini dibangun dengan teknik yang memungkinkan strukturnya untuk bertahan dari gempa bumi, di mana batu-batu tersebut hanya bergeser tanpa khawatir akan pecah. Tidak hanya itu, Candi Prambanan juga memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan kepercayaan animisme yang kemudian digabungkan dengan agama Hindu. Kunjungan ke Candi Prambanan ini menutup cerita singkat mengenai perjalanan peserta didik kelas 8 angkatan 50, SMP Tarakanita 3 di Yogyakarta.</span></p><br></span>
item1

Panen - September 2014

item2

Dianpinru - September 2014

item3

Hari Pangan Sedunia

item4

Carolus Day 2014

item5

Tanpa Judul

item6

Tanpa Judul

item7

RETRET GURU/KARYAWAN 2014

item8

Tartig Cup ke-6

item9

Seminar Kesehatan

item10

Natal dan Tahun Baru 2015

item11

Pelantikan Pengurus OSIS

item12

MEMBUAT SANDWICH